Tampilkan postingan dengan label Asuhan Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Mei 2012

Makalah Asuhan Kebidanan Kehamilan Ektopik Terganggu



BAB I
PENDAHULUAN


A.                Latar Belakang
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat keadaan yang gawat ini dapat terjadi apabila kehamalan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapi oleh setiap Bidan, karna sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopik terganggu itu. Hal yang perlu di ingat ialah, bahwa pada setiap wanita dalam masa produksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang di sertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu dipikirkan kehamilan ektopik terganggu.


B.                 Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan Kehamilan Ektopik Terganggu?
b.       Apa penyebab terjadinya Kehamilan Ektopik Terganggu?
c.       Bagaimana mekanisme terjadinya Kehamilan Ektopik Terganggu?
d.      Apa saja tanda gejala dan diagnosis Kehamilan Ektopik Terganggu?
e.       Bagaimana penatalaksanaan Kehamilan Ektopik Terganggu?

C.                Tujuan
a.       Mengetahui tentang Kehamilan Ektopik Terganggu beserta penyebab dan mekanismenya.
b.       Untuk menentukan Asuhan kebidanan yang tepat dalam menangani Kehamilan Ektopik Terganggu.


D.                Manfaat
a.       Agar mahasiswa dapat melakukan asuhan yang tepat dalam menangani Kehamilan Ektopik Terganggu.
b.       Sebagai tambahan teori mengenai Kehamilan Ektopik Terganggu.



























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian
Menurut Buku Obstetri Patologi Universitas Pajadjaran Bandung

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik.

B.       Penyebab
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan dan  Ilmu Kandungan adalah

Penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masaih di tuba.


Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan
Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba:
a.                   Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang. Terbentuk trofoblast sebelum telur ada di cavum uteri.
b.                  Pada hipoplasia lumen, tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping.
c.                   Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
d.                  Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat.
e.                   Infeksi alat genitalia intern khususnya tuba fallopi (infeksi STD, infeksi asenden akibat IUD, chlamydia trachomatis menyebabkan penyempitan tuba
f.                   Desakan luar tuba (kista ovarium, mioma, endometriosis yang menimbulkan perlekatan dengan sekitarnya sehingga terjadi penyempitan lumen)
g.                  Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb.
h.                  Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh.
i.                    Abortus buatan.

Kehamilan Ektopik Terganggu dapat terjadi di beberapa tempat, antara lain :
a.                   Tuba fallopi  (ampulla tuba, isthmus tuba, interstisial tuba)
b.                   Kehamilan ektopik servikal
c.                   Kehamilan ovarial
d.                  Kehamilan abdominal
e.                   Kehamilan interstisial


C.  Patologi
Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian di reasorbsi.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu.
Kemungkinan yang dapat terjadi antara lain :
1.                  Hasil konsepsi mati dini dan direasorbsi    
Ovum mati dan kemudian direasorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap sebagai haid yang datangnya agak terlambat.

2.                  Abortus ke dalam lumen tuba
Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu menyebabkan pembesaran tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di kavum Douglas dan menyebabkan hematokele retrouterina.

3.                  Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.

Berdasarkan tempat Implantasinya dapat terjadi beberapa kemungkinan sbb :
       TEMPAT IMPLANTASI
       PATOFISIOLOGI
       HASIL KONSEPSI
       Interstisial tuba
       Letak intramural
       Vaskularisasi dapat mendukung tumbuh kembang janin (aterm)
       Ada kemungkinan ekspulsi ke cavum uteri sehingga aterm di uterus
       Bisa terjadi ruptur,perdarahan banyak, syokk irreversibel, kematian tertinggi
       Isthmus tuba
       Lumennya kecil mudah terjadi destruksi endosalping sejak UK 6 hari
       Daya tampung lumen kecil,bisa ruptur, perdarahan intraabdominal
       Kehamilan ektopik rekuren
       Paling sering ruptur sebabkan perdarahan intraabdominal
Ampulla tuba
1.    Spermatozoa dan ovum paling lama tinggal di ampula tuba karena lumen paling besar
2.    Kesempatan konsepsi paling besar terjadi di ampula tuba yang terletak 1/3 bag distal tuba fallopi
3.    Implantasi hasil konsepsi bisa mengalami :
       Gangguan implantasi (absorbsi)
       Abortus tuba,perdarahan intraabdominal, hematokel)
       Ruptur ligamentum latum
perdarahan


D.      Gambaran klinik.
Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan

Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda: Dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam ronga perut sampai terdapat nya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan ektopik terganggu, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
HAMIL EKTOPIK INTAK
HAMIL EKTOPIK RUPTUR
1.    Amenore
2.    Rasa tidak nyaman di abdomen bawah
3.    Mungkin terdapat perdarahan ringan (pada px vaginal terdapat nyeri gerak serviks, adneksa tegang atau teraba massa, terasa nyeri saat palpasi)
4.    Tanda perdarahan intrabdominal negatif
5.    Kesimpulan diagnosis sulit (konfirmasi dengan laparaskopi)
6.    Terapi (laparaskopi untuk mengangkat hasil konsepsi, khemoterapi agar hasil konsepsi mati dan diabsorbsi)
7.    Terdapat trias ruptur KET(amenore,nyeri abdomen mendadak, terdapat perdarahan)
8.    Perdarahan pervaginam
9.    Tanda perdarahan intraabdominal positif (tanda cairan intraabdominal, peritonitis)
10. Pemeriksaan dalam (nyeri goyang serviks, cavum doglas menonjol dan nyeri)
11. Fungsi cavum doglas terdapat darah
12. Terapi (laparaskopi untuk hentikan sumber perdarahan, cegah syok hipovolumik)


E.       Diagnosis
Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kandungan

Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik, gejala-gejala kehamilan ektopik beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesukaran. Yang terpenting dalam pembuatan diagnosis kehamilan ektopik ialah supaya pada pemeriksaan penderita selalu waspada terhadap kemungkinan kehamilan ini.

Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal

Pemeriksaan untuk membantu diagnosis:
a.                       Tes kehamilan : Apa bila tes nya positip, itu dapat membantu diagnosis.
b.                       Pemeriksaan umum : Penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam rongga perut tanda syok dapat di temukan. Pada jenis perdarahan tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.
c.                       Anamnesis : Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda nyeri perut bagian bawah.
d.                      Pemeriksaan ginekologi : Tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan.
e.                       Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu terutama ada tanda perdarahan dalam rongga perut.
f.                        Pemeriksaan kuldosentesis : Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah, cara ini amat berguna dalam membantu diagnosis kehamilan ektopik terganggu.
g.                       Pemeriksaan ultra sonografi : Pemeriksaan ini berguna dalam diagnosis kehamilan ektopik. Diagnosis pastinya ialah apa bila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalam nya tampak denyut jantung janin.
h.                       Pemeriksaan laparoskopi : Digunakan sebagai alat Bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik.


F.       Gejala
Menurut buku obstetri patologi universitas padjajaran

Hal yang khas dari kehamilan ektopik terganggu ialah seorang wanita yang sudah terlambat haidnya, tiba-tiba nyeri perut kadang-kadang jelas lebih nyeri sebelah kiri atau sebelah kanan. Selanjutnya pasien pusing dan kadang-kadang pingsan sering keluar darah pervaginam.
Gejala-Gejala Yang  Terpenting:
  1. Nyeri perut: nyeri perut ini paling sering dijumpai biasanya nyeri datang  setelah mengangkat benda yang berat. Buang air besar namun kadang-kadang bisa juga pada waktu sedang istirahat.
  2. Adanya amenorea: amenorea biasanya muncul beberapa waktu sebelum terjadi perdarahan.
  3.  Perdarahan:  perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam.
  4. Shock karena hypovolemia.
  5. Nyeri Bahu dan Leher (iritasi diafragma)
  6. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak kembung.
  7. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar.
  8. Gangguan kencing: kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut.
  9. Perubahan darah: dapat di duga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu karena perdarahan yang banyak dalam rongga perut.

G.      Diagnosis Banding
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2002. 
a.                 Abortus imminens
b.                Penyakit radang panggul (akut / kronik)
c.                 Kista ovari



H.  Penatalaksanaan Atau Penanganan
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal

a.                 Setelah diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif gawat darurat.
b.                Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus dihentikan.
c.                 Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung)
d.                Bila darah pengganti belum tersedia, berikan autotransfusion berikut ini :
1)    Pastikan darah yang dihisap dari rongga obdomen telah melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril
2)    Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah.
3)    Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan.
e.                 Tindakan dapat berupa :
1)    Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi.
2)    Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan).
f.                 Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang di sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas.
g.                Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan:
1)    Ketoprofen 100 mg supositoria.
2)    Tramadol 200 mg IV.
3)    Pethidin 50 mg IV (siapkan anti dotum terhadap reaksi hipersensitivitas)
h.                Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari.
i.                  Konseling pasca tindakan                  
1)    Kulanjutan fungsi reproduksi.
2)    Resiko hamil ektopik ulangan.
3)    Kontrasepsi yang sesuai.
4)    Asuhan mandiri selama dirumah.
5)    Jadwal kunjungan ulang.


I.         Komplikasi Potensial
Komplikasi-komplikasi kehamilan tuba yang biasa adalah ruptur tuba atau abortus tuba, aksierosif dari trofroblas dapat menyebabkan kekacauan dinding tuba secara mendadak: ruptur mungkin paling sering timbul bila kehamilan berimplatasi pada pars ismikus tuba yang sempit, abortus tuba dapat menimbulkan hematokel pelvis, reaksi peradangan lokal dan infeksi skunder dapat berkembang dalam jaringan yang berdekatan dengan bekuan darah yang berkumpul.

J.        Prognosis
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan

Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup, Hellman dkk, (1971) 1 kematian diantara 826 kasus, dan Willson dkk. (1971) 1 antara 591. Tetapi bila pertolongan terlambat angka kematian dapat tinggi, Sjahid dan Martohoesodo (1970) Mendapat angka kematian 2 dari 120 kasus, Sedangkan Tarjamin dkk (1973) 4 dari 138 kehamilan ektopik.

Minggu, 06 Mei 2012

Asuhan Kebidanan pada bayi dengan Oral Trush


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Sebagian besar bayi baru lahir dilahirkan dalam kondisi sehat, namun beberapa bayi dapat mengalami keadaan-keadaan yang membutuhkan pemeriksaan. Bayi baru lahir rentan terhadap beberapa penyakit daripada anak atau orang dewasa. Sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna untuk melawan bakteri, virus dan parasit.
Oral trush (stomatitis) adalah radang mulut (pada bibir atau lidah). Hal ini biasanya dijumpai pada bayi dan anak - anak kecil. Oral trush ini kadang sulit dibedakan dengan sisa susu, terutama pada bayi yang mendapatkan susu formula (Pengganti air Susu Ibu – PASI). Sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat. Tanda gejala pasti yan g terjadi adalah timbulnya bercak-bercak putih pada bibir atau lidah, suhu meningkat, bayi kadang menolak untuk minum atau menyusui bahkan kadan dimuntahkan.
Sebenarnya oral trush bisa sembuh sendiri seperti sariawan herpetik. Biasanya memakan waktu penyembuhan sekitar seminggu tapi jika sudah parah dan jika tidak diobati bisa berkelanjutan sangat memungkinkan terjadinya diare, apabila jamurnya tertelan, mengalir lewat pembuluh darah dan bisa menimbulkan infeksi usus.
Ada 3 jenis oraltrush yang kerap menyerang anak, yaitu: stomatitis apthosa, oral trush/moniliasis, dan stomatitis herpetic.

1.2 Rumusan Masalah
1.                   Apa yang dimaksud dengan oral trush ?
2.                   Apa saja penyebab dan tanda gejala dari oral trush ?
3.                   Bagaimana cara mengatasi terjadinya oral trush ?

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui tentang oral trush
2.      Untuk mengetahui penyebab dan tanda gejala dari oral trush
3.      Untuk mengetahui cara mengatasi oral trush.


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Sebagian besar bayi baru lahir dilahirkan dalam kondisi sehat, namun beberapa bayi dapat mengalami keadaan-keadaan yang membutuhkan pemeriksaan. Bayi baru lahir rentan terhadap beberapa penyakit daripada anak atau orang dewasa. Sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna untuk melawan bakteri, virus dan parasit.
Berdasarkan lokasinya, sariawan pada anak, baik itu bayi maupun balita, lebih sering terjadi pada bibir, lidah, pipi bagian dalam (mukosa), dan tenggorokan. Jarang sekali terjadi sariawan di gusi. Munculnya pun hanya satu, paling banyak dua. Tidak pernah berjejer seperti yang terjadi pada orang dewasa.
Ada beberapa jenis sariawan yang kerap terjadi pada anak. Di antaranya stomatitis apthosa, yaitu sariawan karena trauma, misalnya tergigit atau terkena sikat gigi sehingga luka atau lecet. Lalu, sariawan oral thrush/moniliasis, yang disebabkan jamur candida albican. Biasanya sariawan ini banyak dijumpai di lidah. Ada pula stomatitis herpetik yang disebabkan virus herpes simplek. Sariawan jenis ini berlokasi di bagian belakang tenggorokan.
Oral trush (stomatitis) adalah radang mulut (pada bibir atau lidah). Hal ini biasanya dijumpai pada bayi dan anak-anak kecil yang minum susu dengan botol atau dot atau anak kecil yang menghisap dot keripung (fopspean) yang tidak diperhatikan kebersihannya. Misalnya: dot tersebut tidak pernah direbus sehingga bakteri berkembang biak.. Seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian makin jarang, kecuali pada bayi yang mendapatkan pengobatan antibiotik atau imunosupresif.
Oral trush juga dapat diartikan sebagai terinfeksinya membrane mukosa, mulut bayi oleh jamur candidiasis yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak putih dan membentuk plak-plak berkeping di mulut. Biasanya penderita akan menunjukkan gejala demam karena adanya iritasi gastrointestinal.
Oral thrush pada bayi terjadi 7-10 hari setelah persalinan dan penyakit ini biasanya menyerang bayi yang sakit atau lemah, individu dengan kondisi kesehatan buruk, pasien dengan tanggap imun lemah, serta sering terjadi pada pasien yang telah menjalani pengobatan dengan antibiotic. Oral trush ini kadang sulit dibedakan dengan sisa susu, terutama pada bayi yang mendapatkan susu formula (Pengganti air Susu Ibu – PASI).
            Sebenarnya oral trush bisa sembuh sendiri seperti sariawan herpetik. Biasanya memakan waktu penyembuhan sekitar seminggu. Jika trush tidak diobati akan bisa berkelanjutan. Memang tak sampai menyebar ke seluruh tubuh, paling hanya di sekitar mulut. Tetapi, sangat memungkinkan terjadinya diare, apabila jamurnya tertelan, mengalir lewat pembuluh darah dan bisa menimbulkan infeksi usus. Juga dapat menyebabkan kesukaran minum (menghisap puting susu atau dot) sehingga akan berakibat bayi kekurangan makanan. Oral thrush tersebut dapat mengakibatkan diare karena jamur dapat tertelan

Ada 3 jenis oral trush yang kerap menyerang anak, yaitu:
1.            Stomatitis apthosa
Sariawan ini akibat adanya trauma, misalnya tergigit atau terkena sodokkan sikat gigi hingga luka atau lecet. Bila kuman masuk dan daya tahan tubuh menurun, maka luka menjadi infeksi. Biasanya timbul peradangan dan rasa sakit atau nyeri. Untuk kebaikan si kecil, pilihlah sikat gigi yang lembut dan bersihkan gigi secara benar untuk mengurangi potensi luka.
2.           Oral thrush/moniliasis
Disebabkan oleh jamur candida albican yang biasanya dijumpai dan bersarang di lidah. Pada keadaan normal, jamur memang terdapat dalam mulut. Tapi saat daya tahan tubuhnya menurun, serta penggunaan obat antibiotik yang berlangsug lama atau melebihi jangka waktu pemakaian, akan memudahkan jamur candida albican tumbuh melebihi normal.
3.    Stomatitis herpetic
Disebabkan virus herpes simplek dan berlokasi di bagian belakang tenggorokan. Sariawan ditenggorokan terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan daya tahan tubuh sedang rendah.Sariawan jenis stomatitis herpetic dan stomatitis apthosa biasa terjadi pada anak-anak, sementara anak balita lebih banyak mengidap sariawan jenis moniliasis.


2.2 Faktor penyebab

Pada umumnya oral thrush disebabkan oleh jamur Candida albicans yang ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan(saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan puting susu yang tidak bersih, atau cuci tangan yang tidak benar. Oral trush pada bayi terjadi 7-10 hari setelah persalinan. Jamur ini adalah jamur yang normalnya hidup pada mulut dan saluran cerna manusia. Apabila jamur ini berkembang lebih banyak dari biasanya maka menimbulkan infeksi jamur.
 Jamur Candida albicans bersifat saprofit sehingga jika daya tahan tubuh bayi turun atau pada pengguna antibiotika yang lama dapat terjadi pertumbuhan jamur ini secara cepat dan dapat menimbulkan infeksi berupa oral trush dan diare, sehingga apabila penggunaan antibiotik tertentu pada usia dibawah 1 tahun akan mengakibatkan sariawan atau oral trush yang menetap.
Candida albicans tahan terhadap hampir semua antibiotika yang biasa dipergunakan dan dapat berkembang sewaktu mikroorganisme lain tertekan. Oral trush juga dapat terjadi karena bakteri di dalam mulut karena kurang menjaga kebersihan di mulut. Lesi-lesi mulut mempunyai konsistensi yang lunak, menonjol, bercak-bercak keputihan yang menutupi daerah-daerah yang kecil atau luas pada mukosa mulut, bercak bercak dapat dihapus dan meninggalkan permukaan daging yang berdarah.
Keadaan ini didukung oleh abrasi mulut, kurangnya kebersihan mulut, superinfeksi setelah terapi antibiotika, malnutrisi, cacat imunologi, dan hipoparatiroidisme. Infeksi berat dapat menyebar menuruni esophagus.
Sebagian besar bayi berkontak dengan jamur yang pertama kali saat melalui jalan lahir (ibu dapat memiliki infeksi jamur di kelaminnya tanpa menyadari adanya tanda-tanda infeksi). Penggunaan antibiotik pada saat persalinan dan saat bayi anda lahir dapat memicu terjadinya infeksi jamur. Antibiotik yang diminum ibu dapat melalui ASI dan membunuh bakteri-bakteri baik yang menjaga keseimbangan flora normal tubuh, sehingga saat bakteri baik ini terbunuh oleh antibiotik, infeksi jamur muncul.
Bayi yang dilahirkan dengan operasi Caesar sering menderita infeksi jamur akibat antibiotik yang diberikan pada ibunya selama operasi. Apabila bayi menderita infeksi jamur maka ia dapat menularkannya kepada anda. Dan berlaku sebaliknya infeksi jamur diputing ibu dapat menginfeksi bayi, dan ini menyebabkan infeksi bergantian. Oleh karena itu sangat penting memperhatikan kesehatan kulit payudara apabila bayi anda mengalami thrush.

2.3    Tanda dan gejala

Oral trush kadang sulit dibedakan dengan sisa susu, terutama pada bayi yang mendapatkan susu formula. Sisa susu yang berupa endapan putih tebal pada lidah bayi dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat.
Oral trush ini juga harus dibedakan dengan stomatitis. Stomatitis  merupakan inflamasi dan ulerasi pada membran mukosa mulut. Anak yang mengalami stomatitis biasanya tidak mau makan atau minum.
Gejala tersebut seperti, :
  • Tampak bercak keputihan pada lidah dan atau sekitar mulut, seperti bekas susu yang sulit dihilangkan
  • Bayi menangis saat menyusu atau saat menyedot dari botol. Bercak keputihan karena jamur dapat menimbulkan rasa tidak nyaaman, dan nyeri terutama infeksi berat
  • Bayi kadang menolak untuk minum atau menyusu bahkan kadang akan dimuntahkan
  • Mukosa mulut mengelupas
  • Lesi multiple (luka-luka banyak) pada selaput lendir mulut sampai bibir memutih menyerupai bekuan susu yang melekat, bila dihilangkan dan kemudian berdarah.
  • Bila terjadi kronis maka terjadi granulomatosa (lesi berbenjol kecil) menyerang sejak bayi sampai anak-anak yang berlangsung lama hingga beberapa tahun akan menyerang kulit anak.
  • gejala yang muncul adalah suhu badan meninggi sampai 40 derajat Celcius
  • Bayi banyak mengeluarkan air liur lebih dari biasanya. Secara psikis, dia akan rewel.
2.4  Diagnosa

Diagnosa oral trush dapat ditegakkan minimal dengan adanya 3 – 4 dari tanda dan gejala yang spesifik, yaitu :
1.      Gejala trush berupa suhu badan meninggi hingga 40 derajat Celcius.
2.     Lidah berwarna kemerah-merahan.
3.     Tampak bercak keputihan pada mulut, seperti bekas susu yang sulit dihilangkan.
4.     Lesi multiple (luka-luka banyak) pada selaput lendir mulut sampai bibir memutih menyerupai bekuan susu yang melekat, bila dihilangkan dan kemudian berdarah.
5.     Pada pemeriksaan laborat terdeteksi bakteri Candidiasis Albican.

2.5 Penatalaksanaan

Oral trush pada umumnya bisa sembuh dengan sendirinya. Tetapi lebih baik jika diberikan pengobatan dengan cara :
1.      Bedakan dengan endapan susu pada mulut bayi
2.      Apabila sumber infeksi berasal dari ibu harus segera diobati dengan pemberian antibiotika berspektrum luas
3.      Menjaga kebersihan mulut bayi dan puting susu ibu.
4.      Membersihkan daerah mulut bayi setelah makan ataupun minum susu dengan air matang dan bersih. Apabila oral thrush sudah terjadi pada anak dan sudah diberikan obat, selain menjaga kebersihan mulut berikanlah makanan yang lunak atau cair sedikit-sedikit tetapi frekuensinya sering dan setiap habis makan berikan air putih dan usahakan agar sering minum.
5.      Pada bayi yang minum susu dengan mengunakan botol, harus mengunakan teknik steril, dalam membersihkan botolnya sebelum digunakan, yaitu bisa dengan mencuci bersih botol dan dot susu, setelah itu diseduh dengan air mendidih atau direbus hingga mendidih (jika botol tahan rebus) sebelum dipakai.
6.      Pemberian terapi pada bayi yaitu :
a.       1 ml larutan nystatin (100.000) unit 4x/hari dengan interval 6 jam. Larutan diberikan dengan lembut dan hati-hati agar tidak meyebar luas ke rongga mulut
b.      Gentian violet 3x/hari



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :

1.      Oral trush adalah radang mulut (pada bibir atau lidah). Bisa juga diartikan terinfeksinya membrane mukosa, mulut bayi oleh jamur candidiasis yang ditandai dengan munculnya bercak - bercak putih dan membentuk plak - plak berkeping di mulut.
2.      Tanda dan gejala dari oral trush antara lain seperti: adanya bercak-bercak keputihan pada bibir atau lidah, meningkatnya suhu tubuh, bayi kadang menolak untuk minum atau menyusu bahkan kadang dimuntahkan, rewel.
3.      Penatalaksanaannya bisa dengan menjaga kebersihan mulut bayi dan putting susu ibu, pemberian antibiotika bila infeksi berasal dari ibu, dan bila bayi minum susu dengan menggunakan botol agar dijaga kebersihan botol sebelum digunakan.














DAFTAR PUSTAKA

Sudarti.2010.kelainan dan penyakit pada bayi dan anak.Yoyakarta : Nuha Medika